Langsung ke konten utama

Sepasaran: Merajut Warisan Budaya Melalui Tradisi Tak Terlupakan


Apa itu Sepasaran?


Melansir dari detik.com, sepasaran adalah sebuah adat yang dijalankan setelah bayi lahir selama lima hari. Pada peristiwa ini, keluarga mengundang tetangga dan anggota keluarga besar untuk bersama-sama mendoakan bayi yang baru saja dilahirkan. 
Namun, pada beberapa kesempatan, orang yang mengatur acara sepasaran menunggu hingga tali pusat bayi terputus dengan sendirinya, yang biasanya terjadi ketika bayi mencapai usia 5 hari. Oleh karena itu, istilah "puputan" atau "cuplak puser" juga digunakan untuk sementara waktu dalam konteks perayaan sepasaran.

Bagi mereka yang menyelenggarakan acara jagong bayen, malam sepasaran sering kali menjadi waktu di mana jumlah tamu yang hadir lebih banyak daripada malam sebelumnya. Ini disebabkan oleh fakta bahwa malam tersebut adalah bagian terakhir dari rangkaian perayaan jagong bayen. Pada malam tersebut, bayi yang sedang dirayakan tidak tidur seperti biasa hingga pagi hari, melainkan tetap dalam pelukan. Ini dilakukan karena dalam pandangan beberapa individu, bayi yang baru saja mengalami puput puser menjadi rentan terhadap pengaruh roh jahat yang disebut sebagai sarap-sawan. Oleh karena itu, bayi dijaga dengan tetap dipeluk.

Manfaat Tradisi Separan

Adat sepasaran memiliki tujuan untuk menyatakan rasa terima kasih, baik setelah kelahiran seorang bayi maupun dalam penyelenggaraan acara pernikahan. Tradisi ini juga berfungsi sebagai cara untuk mengumumkan nama bayi kepada para tamu yang diundang, serta menguatkan ikatan silaturahmi. Lebih lanjut, manfaat yang dihasilkan dari adat ini adalah mempererat keharmonisan, berkontribusi kepada sesama, dan meraih berkah dalam kehidupan.

Apa saja Bahan yang dibutuhkan dalam Pelaksanaan Sepasaran?

Di ujung tempat tidur ibu yang sedang melahirkan ditempatkan benda yang disebut sliro dan tumbak sewu. Tumbak sewu merupakan sapu lidi yang diatur sedemikian rupa sehingga ujung-ujungnya berada di atas. Pada bagian ujung-ujung sapu tersebut, berbagai jenis bahan seperti dlingo, bangle, kencur, kunir, temu, cabe merah, bawang merah, dan bawang putih ditusukkan. Sedangkan sliro, yang juga dikenal sebagai liro, merupakan peralatan tradisional untuk menenun. Sliro umumnya terbuat dari kayu kelapa yang keras, berbentuk pipih panjang dengan lebar sekitar ±5 cm, panjang 2 m, dan tebal ±2 cm, serta memiliki ujung yang agak runcing.

Sliro yang diletakkan di tempat tidur ibu tersebut, dihiasi dengan coretan kapur dan arang, sehingga permukaannya penuh dengan gambaran hitam dan putih. Tujuan di balik tindakan ini adalah untuk melindungi bayi dan ibu dari pengaruh buruk roh-roh jahat yang mungkin mengganggu mereka. Setelah itu, bagian atas dinding luar rumah dilengkapi dengan tulak bala, yang dibentuk dengan cara mengikatkan benang mengelilingi rumah. Di setiap sudut rumah, diletakkan ikatan dari daun pandan berduri, daun andong, daun nanas, daun girang, dan daun alang-alang. 

Sedangkan untuk persiapan acara selamatan sepasaran atau puputan, hidangan yang disajikan meliputi hal-hal berikut:

  • Nasi tumpeng (buceng) dan nasi golong tujuh buah, disajikan dengan berbagai jenis lauk-pauk seperti gudhangan, ayam panggang, telur rebus, dan lodheh kluwih.
  • Pisang raja sebanyak dua sisir (dalam bahasa Jawa disebut setangkep).
  • Hidangan jajan pasar atau tukon pasar, terdiri dari berbagai macam makanan kecil seperti kue-kue tradisional dan buah-buahan.
  • Variasi bubur meliputi bubur merah, bubur putih, serta jenang sengkolo yang menggabungkan bubur merah dengan lapisan bubur putih di atasnya.
  • Nasi brok, yaitu nasi yang dihidangkan dalam satu piring bersama dengan beragam lauk-pauk.

Makanan yang telah diuraikan di atas dihidangkan dengan mengundang para tetangga, mirip dengan yang dilakukan saat perayaan selamatan brokohan. Selain hidangan untuk acara perayaan sepasaran, ada beberapa orang yang juga menyiapkan hidangan khusus yang disebut tulakan, yang bertujuan untuk mengusir bala. Tulakan terdiri dari satu bungkus kecil nasi dan lauk-pauk, serta berbagai jenis kue, serupa dengan yang disajikan pada acara kenduri. Tempat-tempat strategis dipilih untuk meletakkan tulakan, di antaranya adalah:

  • Tempat pada waktu bayi dilahirkan
  • Tempat untuk tidur ibu yang melahirkan
  • Tempat untuk menanam tembuni
  • Tempat untuk mandi ibu yang melahirkan
  • Tempat untuk pembuangan sampah
  • Jamban
  • Sumur


Sumber:

https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6711741/7-tradisi-masyarakat-jawa-sambut-kelahiran-bayi

https://jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id/2012/10/23/sepasaran-puputan-tradisi-budaya-jawatimuran/

https://www.kompasiana.com/taschiyatulhikmiyah/63c9d27a4addee5a1a14e682/mengenal-tradisi-sepasaran


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mamoholi: Memahami Makna dan Keunikan Upacara Kelahiran Suku Batak Toba

Di tengah panorama budaya yang kaya di Indonesia, Suku Batak Toba menawarkan wawasan yang menarik tentang kehidupan etnis yang kuat dan beragam. Sebagai salah satu bagian dari keluarga suku Batak yang terdiri dari beberapa sub-suku, Suku Batak Toba memiliki ciri khas budaya yang membedakannya dengan jelas. Kehidupan mereka tercermin dalam adat istiadat yang diwariskan dan seni yang membentuk identitas mereka secara unik.  Menyongsong kelahiran seorang anak, masyarakat Suku Batak Toba menjalankan ritual yang dikenal sebagai Mamoholi. Ritual Mamoholi adalah bagian dari upacara manomu-nomu (merayakan kedatangan atau kelahiran anak). Salah satu contoh desa yang masih mempertahankan dan menjaga tradisi Mamoholi hingga kini adalah Desa Onanrunggu II, yang terletak di kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara. Apa itu Mamoholi? Sumber: sitorusdori/wordpress Keterikatan yang kuat dalam hubungan keluarga membuat Suku Batak Toba memandang keberadaan marga dan garis keturunan sebagai iden...

Menyelami Makna Kasih Sayang: Tradisi Molunggelo dalam Budaya Masyarakat Gorontalo

  Apa itu Molunggelo? Lulunggela (Peralatan utama tradisi Molunggelo) Sumber:  https://museum.gorontaloprov.go.id/ Adat molunggelo atau mopota'e to lulunggelo, yang merujuk pada tindakan menggoyangkan bayi pada ayunan, adalah ungkapan cinta yang telah diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat Gorontalo. Tradisi ini mewakili tanggung jawab seorang ibu dalam merawat dan mengurus kesehatan bayinya, sambil memberikan kenyamanan yang diperlukan. Tradisi  Molunggelo memiliki berbagai manfaat yang berharga bagi sang bayi.  Di zaman lampau, guna melindungi anak dengan lebih baik, orang tua menggunakan ayunan sebagai sarana perlindungan. Keberadaannya yang tidak bersentuhan langsung dengan lantai membuat bayi terlindung dari gangguan hewan-hewan seperti ayam, semut, dan lainnya. Bagaimana Pelaksanaan Tradisi Molunggelo? Dalam pelaksanaannya, ada elemen khusus seperti (syair dan atribut adt) yang diterapkan atau digunakan. Lafal-lafal dan perlengkapan adat ini memba...

Melacak Jejak Tradisi Ngebuyu: Mengungkap Kearifan Lokal Lampung

Setiap daerah memiliki warisan budayanya sendiri dalam merayakan kelahiran generasi penerus. Lampung, sebagai contohnya, memiliki beragam tradisi khas untuk menyambut kelahiran si buah hati. Salah satunya adalah tradisi Ngebuyu yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Lampung. Lebih dari sekadar melanjutkan garis keturunan, kelahiran adalah fondasi bagi kelanjutan generasi dan memastikan agar warisan tidak pudar. Khususnya dalam masyarakat yang menjunjung sistem keturunan patrilineal, di mana fokus pada garis laki-laki, kelahiran seorang putra kerap menjadi harapan yang membara. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memegang sistem keturunan matrilineal, kelahiran seorang putri sering dipandang sebagai cahaya penerus yang akan meneruskan warisan dan identitas keluarga. Itu sebabnya hampir setiap suku di dunia merayakan kelahiran dengan rangkaian ritual khas dalam tiap fase penting kehidupan. Mengutip dari kebudayaan.kemendikbud.go.id, masyarakat Lampung Pesisir di da...