Apa itu Molunggelo?
Lulunggela (Peralatan utama tradisi Molunggelo)
Sumber: https://museum.gorontaloprov.go.id/
Adat molunggelo atau mopota'e to lulunggelo, yang merujuk pada tindakan menggoyangkan bayi pada ayunan, adalah ungkapan cinta yang telah diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat Gorontalo. Tradisi ini mewakili tanggung jawab seorang ibu dalam merawat dan mengurus kesehatan bayinya, sambil memberikan kenyamanan yang diperlukan. Tradisi Molunggelo memiliki berbagai manfaat yang berharga bagi sang bayi. Di zaman lampau, guna melindungi anak dengan lebih baik, orang tua menggunakan ayunan sebagai sarana perlindungan. Keberadaannya yang tidak bersentuhan langsung dengan lantai membuat bayi terlindung dari gangguan hewan-hewan seperti ayam, semut, dan lainnya.
Bagaimana Pelaksanaan Tradisi Molunggelo?
Dalam pelaksanaannya, ada elemen khusus seperti (syair dan atribut adt) yang diterapkan atau digunakan. Lafal-lafal dan perlengkapan adat ini membawa signifikansi dan nilai-nilai spesifik menurut keyakinan masyarakat Gorontalo. Syair yang dimaksud di sini adalah rangkaian doa yang diucapkan oleh hulango (bidan kampung) selama pelaksanaan tradisi ini. Doa-doa ini diucapkan saat bayi akan dimandikan, ketika bayi akan diayunkan ke dalam buaian atau lulunggelo, dan terakhir saat hulango menaburkan beras lima warna.Selain Lulunggela, Apa saja yang dibutuhkan dalam Pelaksanaan Molunggelo?
Sementara dalam hal perlengkapan adat, selain Lulunggela (ayunan) sebagai peralatan intinya, juga ada sejumlah atribut adat lain yang terdiri dari seperangkat hulanthe (telur, cengkeh, pala, lemon swanggi, koin, dan beras), sepasang ayam (jantan dan betina), serta seperangkat baki (polutube, segelas air, dan kemenyan atau alama’). Semua perlengkapan adat ini merupakan benda-benda yang seringkali dipakai oleh para leluhur dalam melangsungkan tradisi Molunggelo.
Dulu, semua perlengkapan adat ini seringkali digunakan oleh para orang tua pada zaman dahulu ketika mereka melaksanakan tradisi Molunggelo. Oleh karena itu, sebagai bentuk penghormatan dan usaha menjaga keberlanjutan warisan budaya Molunggelo, masyarakat Gorontalo masih tetap menggunakannya dalam setiap acara Molunggelo, mulai dari kelahiran anak pertama hingga anak yang terakhir.
Sumber Referensi:
- BINABARI, Y. (2017). Nilai Verbal dan Nilai Non Verbal dalam Tradisi Molunggelo. Skripsi, 1(311411122).
- https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=2888
- https://www.kompasiana.com/alyaibrahim7559/645a1b6d5479c36d5e673602/tradisi-molunggelo-adat-gorontalo-ditinjau-dari-antropologi-kesehatan

Komentar
Posting Komentar