Setiap daerah memiliki warisan budayanya sendiri dalam merayakan kelahiran generasi penerus. Lampung, sebagai contohnya, memiliki beragam tradisi khas untuk menyambut kelahiran si buah hati. Salah satunya adalah tradisi Ngebuyu yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Lampung.
Lebih dari sekadar melanjutkan garis keturunan, kelahiran adalah fondasi bagi kelanjutan generasi dan memastikan agar warisan tidak pudar. Khususnya dalam masyarakat yang menjunjung sistem keturunan patrilineal, di mana fokus pada garis laki-laki, kelahiran seorang putra kerap menjadi harapan yang membara. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memegang sistem keturunan matrilineal, kelahiran seorang putri sering dipandang sebagai cahaya penerus yang akan meneruskan warisan dan identitas keluarga. Itu sebabnya hampir setiap suku di dunia merayakan kelahiran dengan rangkaian ritual khas dalam tiap fase penting kehidupan.
Mengutip dari kebudayaan.kemendikbud.go.id, masyarakat Lampung Pesisir di daerah Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, yang akrab disapa sebagai 'Ulun Lampung Saibatin', memiliki sebuah upacara khusus dalam menyambut lahirnya bayi. Tradisi ini dikenal dengan nama Ngebuyu dalam bahasa lokal. Selain itu, tradisi ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Ngabuyu, Kabuyon, Diduayon, Tabur Uang, atau Saweran.
Apa itu Tradisi Ngebuyu?
Ngebuyu meruapakan tradisi yang dijalankan pada bayi yang baru lahir, umumnya diterapkan selama kurun waktu 9 hingga 10 hari setelah kelahirannya. Dalam rentang waktu ini, bayi diharuskan berada di dalam rumah dan dilarang untuk dibawa ke luar hingga usianya mencapai 9 hari. Dengan kata lain, semua aktivitas bayi dilakukan di lingkungan rumah. Setelah melewati periode lebih dari 9 hari, barulah sang bayi diizinkan berada di luar rumah dan diarahkan untuk menjalani mandi di sungai dalam upacara yang disebut Kabuyon atau Diduayon. Hingga saat ini, kebiasaan Ngebuyu masih terus dilestarikan, terutama di daerah Kecamatan Rajabasa dan Kecamatan Way Urang yang terletak di Kabupaten Lampung Selatan.
Tradisi Ngebuyu membawa makna sebagai proses 'membumikan' untuk seorang bayi dengan dunia sekitarnya, dengan tujuan memberikan bayi pemahaman tentang lingkungannya. Ini bertujuan agar nantinya, sang bayi bisa mengenali dan tumbuh dengan rasa cinta terhadap tanah tempat ia lahir. Bagi masyarakat Lampung, memahami asal-usul tanah kelahiran memegang peran penting. Ini karena tanah tempat lahir mereka mencerminkan kejayaan kelompok atau apa yang dikenal sebagai "buay" dalam bahasa Lampung. Khususnya untuk komunitas Lampung Saibatin di Kalianda, bumi bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga elemen inti yang menjadi sumber kehidupan bagi manusia.
Apa saja yang dibutuhkan dalam Tradisi Ngebuyu?
Sebelum hari Ngebuyu tiba, persiapan harus dikerjakan dengan teliti, termasuk menyiapkan segala peralatan yang diperlukan untuk acara tersebut. Daftar perlengkapan upacara mencakup bahan beras kuning, biji kemiri, sejumlah uang baik dalam bentuk kertas maupun koin, dan juga manisan (permen). Dalam pelaksanaan Ngebuyu, esensialnya adalah penggunaan kumbang teluy, yang dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai kembang telur. Untuk menciptakan kumbang teluy ini, tuan rumah menyiapkan elemen-elemen seperti kertas hias berwarna (biasanya berwarna merah dan putih), rangkaian bambu atau hawi, dan lem. Bagian ujung dari kumbang teluy akan ditempatkan dengan foto serta nama bayi yang akan mengikuti ritual Ngebuyu.
Bagaimana Proses Acara Tradisi Ngebuyu dilaksanakan?
Mengutip dari jurnal berjudul "Pendidikan Karakter melalui Tradisi Ngebuyu sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Lampung Pesisir" yang ditulis oleh Rinaldo Adi Pratama dkk, terungkap bahwa sebelum melaksanakan tradisi Ngebuyu, langkah pertama yang diambil adalah memberi tahu keluarga, kerabat, dan tetangga terdekat.
Tradisi Ngebuyu umumnya dijalankan di waktu pagi, berlokasi di halaman atau pekarangan rumah tuan rumah yang akan menyelenggarakan ritual ini. Acara dimulai dengan keluarnya tuan rumah bersama bayi dari pintu depan rumah, diikuti dengan kata sambutan singkat yang disampaikan oleh tuan rumah. Ucapan ini berfungsi sebagai pengumuman nama bayi serta pengenalan kepada masyarakat sekitar.
Ngegabokh
Tahapan selanjutnya adalah Ngegabokh, dipandu oleh saudara tertua dari pihak keluarga ayah bayi. Dalam langkah ini, pasu atau baskom berisi campuran beras kuning, kemiri, uang (baik logam maupun kertas), dan beberapa permen, secara perlahan-lahan ditaburkan. Ngegabokh umumnya menjadi acara yang sangat dinanti oleh tetangga dan kerabat, di mana mereka bersemangat bersaing untuk mengambil sebagian uang yang ditaburkan.
Tahap akhir melibatkan pembagian kumbang teluy kepada warga sekitar dan dilanjutkan dengan proses pemandian bayi di sungai (kabuyon atau diduayon). Namun, saat ini, praktik kabuyon umumnya berlangsung di halaman rumah dengan menggendong bayi dan memandikannya di dalam bak.
Bagi warga Lampung Pesisir yang memiliki kemampuan, sering kali acara diteruskan dengan kegiatan marhaban yang juga diperkaya oleh unsur-unsur khas Lampung. Misalnya, tetua adat yang menggendong bayi akan memakai tapis sebagai busana, dan dalam momen ini, doa akan dibacakan oleh penghulu. Selain itu, terdapat siger, yaitu hiasan khas, yang digunakan untuk menempatkan kelaa yang berfungsi sebagai penanda potongan rambut bayi yang baru dicukur.

Komentar
Posting Komentar