Langsung ke konten utama

Menyelami Kekayaan Budaya: Eksplorasi Ritual Maayun Anak dalam Tradisi Masyarakat Banjar

 

Apa itu Ritual Maayun Anak?


Menurut Sahriansyah (2015), Ritual Maayun Anak adalah sebuah tradisi yang telah ada dalam budaya masyarakat Banjar sejak zaman sebelum kedatangan agama Islam. Asal usul budaya ini bermula dari praktik maayun yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Dayak Kaharingan dalam acara Bapalas Bidan. Ritual Bapalas Bidan merupakan suatu tradisi yang dijalankan untuk membayar jasa bidan yang telah membantu dalam proses kelahiran anak (Wajidi 2011, 107–8).

Seorang bayi yang baru lahir akan dianggap sebagai anak yang terkait dengan bidan sampai saat ia ditebus melalui upacara Bapalas Bidan. Upacara ini biasanya diadakan setelah bayi mencapai usia 40 hari. Dalam rangkaian upacara Bapalas Bidan, disiapkan sebuah ayunan yang dihias dengan janur dan berbagai jenis kue tradisional khas masyarakat Banjar. Setiap jenis kue tersebut memiliki simbolisasi yang menggambarkan perpaduan antara nilai budaya Banjar dan ajaran Islam (Sam’ani, Rachman, Sjarifuddin, dkk. 2007, 76).

Pada awalnya, Upacara Maayun Anak juga diadakan seiring dengan pelaksanaan perayaan Aruh Ganal (Keduri Besar) yang merupakan praktik yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Kaharigan sebagai ungkapan rasa terima kasih atas hasil panen yang mereka dapatkan. Dalam perayaan Aruh Ganal, mantra-mantra khusus (mamagan) dibacakan oleh para Balian dalam sebuah ruang yang disebut Balai. Upacara ini juga melibatkan penyajian sesajen kepada roh-roh nenek moyang, dengan tujuan melindungi anak dari gangguan arwah leluhur.

Setelah agama Islam masuk, beberapa ritus dalam budaya Maayun Anak mengalami transformasi. Beberapa simbol dari tradisi lama yang bertentangan dengan ajaran Islam kemudian diubah sedemikian rupa dan unsur-unsur Islam dimasukkan ke dalamnya. Beberapa juga dihilangkan karena tidak dapat disatukan dengan prinsip-prinsip Islam.

Seiring berjalan waktu, tradisi baayun yang awalnya hanya berfokus pada anak-anak kecil (bayi dan balita), akhirnya mengalami perluasan makna karena juga diikuti oleh anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa sampai usia lanjut. Budaya baayun ini sering kali diadakan bersamaan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengenang perjuangan dan merenungi sejarah kehidupan Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam.

Dalam beberapa waktu terakhir, budaya baayun lebih sering dikenal dengan sebutan budaya Baayun Maulid. Ini karena dalam pelaksanaannya, budaya ini dipenuhi dengan pembacaan syair-syair Maulid Habsyi dan dijalankan pada bulan Maulid (Rabiul Awal), bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Dalam menghias ayunan, baik dalam acara Bapalas Bidan maupun dalam acara Baayun Maulid, selain menggunakan janur, piduduk, dan kue tradisional, seringkali ayunan juga diberikan sentuhan kambang barinting (rangkaian bunga) yang terdiri dari bunga mawar, melati, kenanga, cempaka, dan sepatu yang diatur sedemikian rupa pada ayunan yang digunakan untuk mengayun anak.


Sumber:

  • Sahriansyah. 2015. Sejarah Kesultanan Dan Budaya Banjar. Banjarmasin: Antasari Press. http://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/5256.
  • Wajidi, Wajidi. 2011. Akulturasi Budaya Banjar Di Banua Halat. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
  • Sam’ani, Asmoeni A. Rachman, Suriansyah Ideham, Jurliani Djohansjah, Djantera Kawi, Sjarifuddin, Syamsiar Seman, et al. 2007. Urang Banjar Dan Kebudayaannya. 
  • Hestiyana. 2020. “Leksikon Etnobotani Tumbuhan Bunga dalam Pengobatan Tradisional dan Cerminan Kultural Masyarakat Banjar.” Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan 8 (1): 23–37.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mamoholi: Memahami Makna dan Keunikan Upacara Kelahiran Suku Batak Toba

Di tengah panorama budaya yang kaya di Indonesia, Suku Batak Toba menawarkan wawasan yang menarik tentang kehidupan etnis yang kuat dan beragam. Sebagai salah satu bagian dari keluarga suku Batak yang terdiri dari beberapa sub-suku, Suku Batak Toba memiliki ciri khas budaya yang membedakannya dengan jelas. Kehidupan mereka tercermin dalam adat istiadat yang diwariskan dan seni yang membentuk identitas mereka secara unik.  Menyongsong kelahiran seorang anak, masyarakat Suku Batak Toba menjalankan ritual yang dikenal sebagai Mamoholi. Ritual Mamoholi adalah bagian dari upacara manomu-nomu (merayakan kedatangan atau kelahiran anak). Salah satu contoh desa yang masih mempertahankan dan menjaga tradisi Mamoholi hingga kini adalah Desa Onanrunggu II, yang terletak di kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara. Apa itu Mamoholi? Sumber: sitorusdori/wordpress Keterikatan yang kuat dalam hubungan keluarga membuat Suku Batak Toba memandang keberadaan marga dan garis keturunan sebagai iden...

Menyelami Makna Kasih Sayang: Tradisi Molunggelo dalam Budaya Masyarakat Gorontalo

  Apa itu Molunggelo? Lulunggela (Peralatan utama tradisi Molunggelo) Sumber:  https://museum.gorontaloprov.go.id/ Adat molunggelo atau mopota'e to lulunggelo, yang merujuk pada tindakan menggoyangkan bayi pada ayunan, adalah ungkapan cinta yang telah diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat Gorontalo. Tradisi ini mewakili tanggung jawab seorang ibu dalam merawat dan mengurus kesehatan bayinya, sambil memberikan kenyamanan yang diperlukan. Tradisi  Molunggelo memiliki berbagai manfaat yang berharga bagi sang bayi.  Di zaman lampau, guna melindungi anak dengan lebih baik, orang tua menggunakan ayunan sebagai sarana perlindungan. Keberadaannya yang tidak bersentuhan langsung dengan lantai membuat bayi terlindung dari gangguan hewan-hewan seperti ayam, semut, dan lainnya. Bagaimana Pelaksanaan Tradisi Molunggelo? Dalam pelaksanaannya, ada elemen khusus seperti (syair dan atribut adt) yang diterapkan atau digunakan. Lafal-lafal dan perlengkapan adat ini memba...

Melacak Jejak Tradisi Ngebuyu: Mengungkap Kearifan Lokal Lampung

Setiap daerah memiliki warisan budayanya sendiri dalam merayakan kelahiran generasi penerus. Lampung, sebagai contohnya, memiliki beragam tradisi khas untuk menyambut kelahiran si buah hati. Salah satunya adalah tradisi Ngebuyu yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Lampung. Lebih dari sekadar melanjutkan garis keturunan, kelahiran adalah fondasi bagi kelanjutan generasi dan memastikan agar warisan tidak pudar. Khususnya dalam masyarakat yang menjunjung sistem keturunan patrilineal, di mana fokus pada garis laki-laki, kelahiran seorang putra kerap menjadi harapan yang membara. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memegang sistem keturunan matrilineal, kelahiran seorang putri sering dipandang sebagai cahaya penerus yang akan meneruskan warisan dan identitas keluarga. Itu sebabnya hampir setiap suku di dunia merayakan kelahiran dengan rangkaian ritual khas dalam tiap fase penting kehidupan. Mengutip dari kebudayaan.kemendikbud.go.id, masyarakat Lampung Pesisir di da...